Motorhead | Rock 'n' Roll


   Motörhead itu bukan sekadar band, mereka adalah knuckle-duster yang dipasang di rahang sejarah rock 'n' roll. Musiknya ngebut kayak truk oleng tanpa rem, silincer knalpotnya pakai model serigala, dan sopirnya mabuk idealisme. Dari riff yang kasar sampai dentuman bass yang nyeruduk ulu hati, Motörhead datang bukan buat dipuja, mereka datang buat mengacak-acak. Ini rock 'n' roll yang gak ada ampun, gak nyari restu, dan gak sudi pakai kemeja yang disetrika rapi. Liriknya bau bensin oplosan, keringat lengket bekas lem koyok, dan dosa kecil yang dirawat dengan bangga; nadanya serak, jujur dan keras kepala. Motörhead berdiri di persimpangan punk dan heavy metal, ngeludah ke dua arah sambil tertawa, karena buat mereka, kecepatan dan sikap lebih penting dari stempel genre.

    Di jalanan, Motörhead itu semacam kitab suci berdebu yang dibaca sambil ngerokok, halaman-halamannya sobek tapi isinya tajam. Mereka ngajarin bahwa kekuatan itu bukan dari teknik yang ribet, tapi dari niat yang lurus dan volume yang kejam. Lagu-lagu mereka hidup dari groove yang kotor, beat yang ngegas pol dan aura “take it or leave it” Di panggung, Motörhead bukan hiburan; mereka bentrokan. Bukan buat bikin nyaman, tapi buat ngebangunin yang ketiduran saat putaran gelas gilirannya tiba. Ini musik buat yang hidup di pinggir trotoar, buat yang percaya bahwa kejujuran kadang harus dipukul pakai ampli yang dipelintir mentok ke kanan.

    Warisan Motörhead itu bekas ban di aspal panas: nggak selalu indah, tapi gak mungkin dihapus. Mereka ngasih peta buat generasi berandalan yang muak sama kepalsuan—main cepat, main keras, dan tetap setia sama naluri. Di dunia yang suka memoles kebohongan jadi kilap, Motörhead milih karat sebagai mahkota. Mereka membuktikan bahwa rock ‘n’ roll masih bisa berkelahi, masih bisa berdarah, dan masih bisa berdiri sambil ketawa muntah. Dan selama masih ada orang yang nyalain ampli buat melawan sunyi, nama Motörhead akan terus menggema, kasar dan setia, seperti sumpah jalanan yang diucapkan tanpa ragu.

    Lemmy Kilmister, sang kapten kapal yang tak pernah sudi menoleh ke belakang. Dengan kutil ikonik di wajah dan mikrofon yang diletakkan terlalu tinggi—seolah dia sedang memaki langit—Lemmy adalah bukti hidup bahwa integritas tidak butuh kemasan yang cantik. Dia tidak butuh lampu sorot yang dramatis atau kostum panggung yang berkilau silver; cukup segelas Jack Daniels, bass Rickenbacker yang meraung seperti mesin jet, dan suara yang parau layaknya kerikil yang digiling bercampur padi. Lemmy bukan hanya wajah Motörhead, dia adalah detak jantung dari kekacauan yang terukur, pria yang memilih hidup dengan aturannya sendiri sampai napas terakhirnya habis dihembus angin.

Kematian bagi mereka hanyalah sebuah jeda teknis, karena hantu Motörhead akan selalu bergentayangan di setiap bar remang-remang dan sirkuit balap liar. Pengaruh mereka menyusup ke dalam jaket kulit setiap anak muda yang merasa asing dengan dunia, memberi mereka keberanian untuk menjadi diri sendiri tanpa perlu minta maaf. Motörhead adalah pengingat bahwa musik yang bagus tidak harus sopan di telinga, ia justru harus mampu menggetarkan tulang rusuk dan membakar semangat yang hampir padam. Mereka tidak pernah berusaha menjadi legenda; mereka hanya terlalu jujur untuk dilupakan oleh waktu.

Pada akhirnya, mendengarkan Motörhead adalah sebuah pernyataan sikap. Ini bukan sekadar tentang kebisingan, tapi tentang kebebasan mutlak yang dirayakan di atas tumpukan ampli yang panas dan hampir hangus terbakar hingga menciptakan api kemarahan yang abadi. Kita tidak butuh perpisahan yang puitis untuk band seperti ini, karena mereka tidak pernah pergi untuk menghilang. Di setiap dentuman drum yang memekakkan telinga dan setiap lengkingan gitar yang menyayat, Motörhead akan selalu ada di sana, berdiri tegak di garis depan, mengingatkan kita semua bahwa jika musik ini terasa terlalu keras bagi kamu, berarti kamu memang sudah terlalu tua.

Oleh : Mbinkhead // Brinked


 

Prev Post
No Comment :
Add Comment
comment url